Diskusi Tentang Hidup dan Mati yang Bukan Milikmu

Share This:

Satpam di samping pintu otomatis itu sepertinya kenal dengan saya yang sudah beberapa kali dengan seenaknya parkir di depan gedung Rumah Sakit Jantung SILOAM Cinere, Jakarta Selatan. Cukup dengan pertanyaan “Mau ketemu Bu Dinda, pak, di lantai 5”, maka dengan ramahnya ia mengizinkan saya naik.

Suasana begitu sepi tetapi kali ini penuh dengan keluarga besar Wahidun Idris yang kelam dan masih punya harapan. Ibunda menyambut dengan mengantarkan saya mencuci tangan. Tidak jauh dari situ terdapat dua buah pintu yang satunya langsung mengarah ke ruang ICU tempat Eyangti dirawat.

Raut wajahya resah. Pergerakan lehernya seakan menginginkan semua benda elektronik yang menempel pada tubuhnya lekas lepas. Saya diam dan kaku tidak tahu harus seperti apa saya memperlakukan orang yang sedang seperti itu. Dibibinglah saya oleh ibunda untuk menyentuh pipi dan keningnya, mengirimkannya do’a dan mengajaknya berbicara. Hanya ada saya dan Asa yang ikut berdoa membacakan Al Fatihah.

“Bu Dinda, bisa tolong panggilkan kakak atau anggota keluarga yang dapat memberikan keputusan?” Ujar salah seorang dokter. Dengan mudahnya begitu banyak kesimpulan yang dapat diraih dari ucapan sang dokter yang mencabut satu-persatu benang dari kain harapan.

Seorang sepupu menangis menyesali karena ia belum sempat menikah dan mengenalkan calon suaminya kepada Eyangti. Tante-tante dan paman-pamanku berdiskuski membahas hal yang menyangkut hidup dan mati seseorang yang mereka cintai. Teteh Tia, salah sepupu saya yang berprofesi sebagai seorang dokter menganjurkan untuk berpikir lurus. untuk berpikir juga dengan logika. Kemungkinan operasi berhasil hanya 20% itupun ia akan hidup dengan luka di bagian leher, kemudian di paru-parunya juga akan ditancapkan alat penepis maut lainnya. Ia akan hidup, namun sekarat dan semakin tersiksa.

It’s a place where I don’t want to be

but it’s the place where I need to be…

to learn how brothers and sisters discuss together to overcome a decision of life and death

whose not theirs…. but someone else’s

their mother….

my grand mother…

Saya hanya duduk di ruang tunggu dengan telinga yang tidak bisa menolak diskusi tentang hidup dan mati ini. Titik air di jendela lantai 4, Siloam Puri Cinere jakarta mewakili tangis keluarga. Bunda memberikan nasihatnya, untuk tetap ingat keluarga, sayangi keluarga. Bunda memeluk saya erat. Detik-detik yang begitu lama dengan wejangan terhadap sisi emosi saya. Ia berkata,

“Kelak jangan hanya memaksakan kehendak kita saja. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat, karena psikologi orang-orang berbeda dalam menanggapi dan menafsirkan pendapat dan cara berpendapatnya”

Ia tidak semata-mata menasihati saya ketika akan dihadapkan dengan posisi dirinya terbaring sekarat di rumah sakit, melainkan bagiamana cara agar saya dapat berkembang dan bertahan hidup kelak ketika tiba saatnya dia dijemput.

Bunda juga menganjurkan untuk selalu sabar menghadapi adik pertama saya, Fariz, yang pendiam dan tidak begitu terbuka dengan keluarga. “Jangan memarahinya ketika ingin memberinya saran terhadap kesalahan atau hal yang ia lakukan menyimpang. Aajak dia untuk membuka dirinya pelan-pelan, barulah saat itu beri tahu dia saran dan nasihat”, pungkasnya.

Malam berlarut, saya harus kembali menginap di kantor untuk bekerja keesokan harinya. Saya pamit membisikkan, “Jangan khawatir sama mama. Mama biar Nanda dan adik-adik yang jaga ya” di liang telinga kanan eyangti”

Sekali lagi bunda memeluk erat, saya beranikan diri untuk mengatakan, “Nanda pamit dulu, maaf nggak bisa nginep di sini. Mama sama kakak-kakak putusin yang terbaik ya buat Eyangti”.

Beberapa hari sebelumnya Eyangti sempat memimpikan adik kedua saya, Atung (nama panggilannya sejak balita). Di mimpinya, Atung mengambil pisau dan mengeksekusi aksi bunuh diri. Dini hari itu ia lekas menelpon Bunda dan menyuruhnya untuk menelpon Atung yang waktu itu sedang tertidur lelap.

Atung akhirnya dapat menjenguknya sehari setelah saya menjenguk. Kemudian Atung kembali lagi ke Bandung di pagi harinya untuk kembali berkuliah. Namun, tak ada yang bisa mengelak kematian Eyang di senja maghrib hari itu. Eyangti akhirnya dijemput, Bunda dengan isak tangis yang berhamburan mengabari saya kala sedang membantu Sky Sucahyo manggung di acara Soundquarium di Bandung. Saya tidak tahu harus berkata apa namun biarlah lega para saudaraku dan mengikhlaskan 80 tahun lebih usia sang ibu. “Ma, ikhlasin ya, sabar, habisin tangisannya hari ini dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan, hadapi”. – Muhammad Fernanda Gunsan Putra, 19 Maret 2017.

 

Share This:

Leave a Reply